JAKARTA (28/10) Seminar Kebangsaan diadakan di salah satu sekolah swasta di kota Jakarta Selatan dan mengundang sekolah-sekolah lain, termasuk salah satu nya sekolah SMP Strada Bhakti Utama, dengan perwakilan oleh dua siswa yaitu Amel dan Rani. Di dalam acara seminar tersebut kita diajak untuk lebih mengetahui mengenai revolusi industri 4.0. Kegiatan ini diadakan di ruang Aula dengan mengusung tema “Peran Pelajar dalam Meningkatkan Semangat Nasionalisme & Patriotisme di Era Revolusi Industri 4.0″

Inti acara seminar ini menghadirkan narasumber yang bernama Munif Chatib dan moderator bernama Abdul Latif. Munif Chatib merupakan seorang penulis novel juga menjadi praktisi pendidikan. Beliau lahir di Surabaya pada 5 Juli 1969. Salah satu novel yang ia tulis berjudul Bella: sekolah tak perlu air mata yang menceritakan seorang anak bernama Bella yang tidak bisa pelajaran matematika sehingga guru yang mengajarkan Bella marah dan mengatakan Bella bodoh sehingga ia mengalami trauma psikologis. Salah satu guru mengatakan konsep belajar yaitu “yang tidak tahu menjadi tahu dan yang tidak mengerti menjadi mengerti”. Revolusi industri secara simpel artinya adalah perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang, sedangkan revolusi industri keempat (4.0) adalah keadaan industri abad ke-21 saat perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi. Munif Chatib menyampaikan pada revolusi industri 1.0 (abad ke 18 ditemukan mesin uap), revolusi industri 2.0 (tahun 1900an ditemukan tenaga listrik), revolusi industri 3.0 (tahun 1970-1990an ditemukan komputer), dan Indonesia sekarang menggunakan revolusi industri 4.0 (ditemukan internet) . Di negara Jepang sudah dimulai revolusi industri 5.0 dengan adanya robot Sophia yang bisa menunjukkan ekspresi seperti marah dan senang sangat mirip manusia.Masalah kesiapan perpindahan ke industri 4.0 Indonesia terletak pada SDM dan pemerataan, beberapa sektor industri di Indonesia masih saja belum mendekati Industri 4.0, contohnya pada industri agraris, masih ada petani menggunakan cangkul, walaupun beberapa daerah petaninya sudah memasuki industri 4.0, tidak semua petani menguasai komputer.Masalah lainnya terletak pada banyaknya penduduk Indonesia yang tidak memiliki SDM memadai, karena diperkirakan dengan masuknya industri ini akan memangkas tenaga manusia dengan kemampuan SDM rendah, dan kemungkinan meningkatkan angka pengangguran.Cara pemerintah menghadapi hal tersebut dimulai dari pembangunan infrastruktur untuk pemerataan distribusi di berbagai sektor dan perombakan kurikulum pendidikan guna menghadapi perkembangan industri ini.Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas”. Di dalam pabrik cerdas berstruktur modelur, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat internet untuk segala (lost), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.Dampak industri 4.0 diberbagai bidang, terutama: model layanan dan bisnis, keandalan dan produktivitas berkelanjutan, keamanan mesin, siklus hidup produk, pendidikan dan skill pekerja, dsb. Teknologi yang dikembangkan ini untuk meningkatkan produktivitas dimana biaya awal otomatisasi tidak dijelaskan. 21st Century Skills/Keahlian abad ke 21 adalah 12 kemampuan yang dibutuhkan siswa saat ini untuk berhasil dalam karier mereka selama abad informasi. 21st Century Skills: Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Information Literacy, Media Literacy, Technology Literacy, Flexibility, Leadership, Intiative, Productivity, Social Skills. Untuk berhasil maka harus siap, produktif, cinta kearifan lokal Indonesia, dan menguasai teknologi. Keterampilan ini dimaksudkan untuk membantu siswa mengikuti laju pasar modern saat ini. Setiap keterampilan unik dalam membantu siswa, tetapi mereka semua memiliki satu kualitas yang sama. Mereka sangat penting di era Internet. Setiap keterampilan abad 21 dipecah menjadi satu dari tiga kategori: Kemampuan belajar, Keterampilan belajar, Keterampilan hidup. Kategori ini berkaitan dengan bagian spesifik dari pengalaman kurikulum digital. Competitor, Rapid Change serta Clue Pendidikan Indonesia yang Humanis: Fokus pada POTENSI MANUSIA SEUTUHNYA, Fokus pengembangan KEARIFAN LOKAL UNTUK DUNIA, Fokus APLIKASI TEKNOLOGI sebagai nilai tambah.The Human Capital Index/modal manusia adalah stok kebiasaan, pengetahuan, atribut sosial dan kepribadian yang terkandung dalam kemampuan melakukan tenaga kerja sehingga menghasilkan nilai ekonomi.
Pertama kemajuan yang paling terasa adalah internet. Semua komputer tersambung ke sebuah jaringan bersama. Kita jadinya selalu tersambung ke jaringan raksasa tersebut. Inilah bagian pertama dari revolusi industri keempat: “Internet of Things” saat komputer-komputer yang ada di pabrik itu tersambung ke internet.Ponsel pintar (smartphones) yang senantiasa membuat kita terhubung dengan dunia luar adalah instrumen penting dalam revolusi industri 4.0.
Kedua, kemajuan teknologi juga menciptakan 1001 sensor baru, dan 1001 cara untuk memanfaatkan informasi yang dapat dari sensor-sensor tersebut yang merekam segalanya selama 24 jam sehari. Informasi ini bahkan menyangkut kinerja pegawai manusianya. Misalnya, kini perusahaan bisa melacak gerakan semua dan setiap pegawainya selama berada di dalam pabrik. Dari gerakan tersebut, bisa terlihat, misalnya, kalau pegawai-pegawai tersebut menghabiskan waktu terlalu banyak di satu bagian, sehingga bagian tersebut perlu diperbaiki
Ketiga, berhubungan dengan yang pertama dan kedua, adalah Cloud Computing. Perhitungan-perhitungan rumit tetap memerlukan komputer canggih yang besar, tapi karena sudah terhubung dengan internet, karena ada banyak data yang bisa dikirim melalui internet, semua perhitungan tersebut bisa dilakukan di tempat lain, bukannya di pabrik. Jadi, sebuah perusahaan yang punya 5 pabrik di 5 negara berbeda tinggal membeli sebuah komputer untuk mengolah data yang diperlukan secara bersamaan untuk kelima pabriknya. Tidak perlu lagi membeli 5 komputer untuk melakukannya secara terpisah.
Keempat, ini yang sebetulnya paling besar: Machine learning, yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar, yang bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga melakukan koreksi yang tepat untuk memperbaiki hasil berikutnya.
Point keempat, yaitu Machine Learning, masih amat terbatas untuk tugas-tugas tertentu. Bukan cuma Indonesia, negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat saja masih terus menerus memperdebatkan konsekuensi dari revolusi industri keempat ini, sebab revolusi ini masih berlangsung, atau bahkan baru dimulai. Tantangannya masih banyak. Koneksi internet misalnya, belum universal. Masih ada beberapa daerah yang tak memiliki koneksi internet, bahkan di Amerika Serikat sekalipun. Selain itu, koneksi internet berarti munculnya celah keamanan baru. Perusahaan saingan pasti berusaha mengintip kinerja dan rancangan produksi lewat celah keamanan komputer. Pengendali produksi yang kini bisa diakses dari internet. Mengkombinasikan keempat hal ini artinya perhitungan yang rumit, luar biasa, dan tidak terpikirkan tentang hal apapun bisa dilakukan oleh komputer dengan kemampuan di luar batas kemampuan manusia. Setiap revolusi industri sebetulnya adalah proses yang rumit dengan pengaruh luar biasa luas maupun dalam di masyarakat. Artikel yang saya tulis ini baru menyentuh permukaan setiap revolusi industri, di saat revolusi industri keempat sedang berlangsung. Jadi, sebenarnya kita masih belum tahu sejauh mana revolusi industri 4.0 ini akan memberikan dampak bagi peradaban manusia. Namun, saya mengajak kalian semua untuk berspekulasi, dengan basis segala hal yang terjadi pada ketiga revolusi industri sebelumya, kita bisa menerka apa yang akan terjadi di masa mendatang. Jujur saja, hal ini seringkali lebih pesimis. Namun, untuk kasus ini, harus optimis. Karena, setiap revolusi industri, walaupun mengguncang ekonomi, politik, bahkan budaya, meski memiliki banyak sekali sisi negatif dan masalah, selalu membawa kita ke masyarakat yang lebih baik. Revolusi industri keempat akan menggilas banyak orang, tetapi siapa bilang orang-orang yang tergilas itu tidak bisa bangkit dan memanfaatkan roda penggilas mereka? Dengan demikian, kita harus bisa menghadapi revolusi industri 4.0 ini dengan mempelajari serta memahami nya.
(sumber : file pembicara seminar) (Amelia/8A)
Recent Comments