SMP Strada Bhakti Utama yang termasuk di kawasan lingkungan DKI Jakarta adalah salah satu sekolah yang melaksanakan program Sekolah Adiwiyata. Sekolah SMP Strada Bhakti Utama memiliki tim khusus atau yang disebut dengan pokja. Tim tersebut memiliki tugasnya masing-masing dalam mengelola lingkungan yang hijau, bersih dan sehat dilingkungan sekolah SMP Strada Bhakti Utama. Untuk memperdalam ilmu yang dimiliki oleh para guru dan siswa-siswi SMP Strada Bhakti Utama, maka pada Jumat, 23 Agustus 2024 sekolah SMP Strada Bhakti Utama mengundang beberapa orang dari Dinas Lingkungan Hidup yang membantu dalam memberikan pengarahan yang tepat, khususnya dalam memilah dan mengolah sampah dengan efektif.

Kami diberi penjelasan tentang proses pengangkutan sampah dari tempat sampah yang kami gunakan hingga tempat pembuangan sampah terakhir di Bantar Gebang. Saat ini, Bantar Gebang sedang dalam kondisi yang memprihatinkan dan darurat. Sampah yang dibuang di Bantar Gebang sudah menjulang tinggi hingga membentuk suatu gunungan sampah. Tentu itu karena kita sendiri. Kita bisa menghasilkan sampah sebanyak 175.000 ton per hari, bayangan betapa banyaknya. Bahkan hanya dengan beberapa hari, jumlah sampah dan gunungan sampah akan bertambah banyak. Ini akibat kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan mengolah sampah tersebut dengan baik.

Mereka menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis sampah. Yaitu sampah organik (sampah yang berasal dari alam dan dapat diolah kembali secara alami, contoh : daun-daunan, sisa makanan, kulit buah, sisa sayur dll.), sampah anorganik (sampah yang bisa diolah dan dimanfaatkan kembali, contoh : plastik, kaleng, kertas, kardus, dll), sampah B3 (bahan berbahaya, berbau dan beracun, contoh : baterai, alat-alat elektronik, dll) dan sampah residu (sampah yang tidak bisa diolah kembali,  contoh : puntung rokok, tissue, kapas, pembalut, dll). Kita harus membuang sampah sesuai jenisnya. Misal, sampah organik di tempat sampah berwarna hijau, sampah anorganik di tempat sampah berwarna kuning, sampah B3 di tempat sampah berwarna merah, dan sampah residu di tempat sampah berwarna abu-abu.

Kita juga diberi contoh dari hasil kerajinan yang diolah dari sampah anorganik, yaitu seperti keranjang kecil, tempat pensil, dll. Hal tersebut bisa membantu kita supaya lebih kreatif lagi, terutama dalam memanfaatkan sampah anorganik yang bisa diolah kembali menjadi barang yang lebih bernilai. Tak lupa, orang-orang dari Dinas Lingkungan Hidup juga memberikan pengetahuan baru untuk kami. Yaitu jangka lama waktu yang dibutuhkan untuk menguraikan sampah. Ada sampah yang bisa diurai hingga sampah yang tidak bisa diurai sama sekali.

 

 

Sebarkan artikel ini