Perkumpulan Strada didirikan pada jaman Pemerintahan Hindia Belanda, tepatmya pada tanggal 24 Mei 1924.  Pendiri Perkumpulan Strada adalah Pastor Y. Hubbe, SJ , Pastor A. Van Hoof, SJ , dan Pastor J. Van Rijckevorsel, atau lebih dikenal sebagai ‘tiga serangkai”. Mereka lebih memilih nama perkumpulan daripada nama yayasan dikarenakan pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, perkumpulan mempunyai kedudukan lebih kuat daripada yayasan. Pendidikan di Perkumpulan Strada ikut berperan aktif dalam membentuk generasi muda untuk mengembangkan diri agar bisa terus bertahan di tengah perkembangan dunia yang semakin cepat dan beragam ini. Hal ini membuat para pakar pendidikan di Perkumpulan Strada terus berupaya untuk mengadopsi kurikulum dari pemerintah agar selalu bisa berkembang sesuai tuntutan jaman.

         Perubahan kurikulum terus terjadi apalagi dengan adanya pergantian Menteri Pendidikan, boleh dikatakan bahwa kurikulum pendidikan berganti jika Menteri Pendidikan juga berganti. Hal inilah yang dirasakan oleh para guru Strada dan seluruh guru di negeri ini. Sebagai guru pastinya tidak bisa berdiam diri atas segala perkembangan yang terjadi di dunia pendidikan. Banyak hal yang harus dilakukan, diantaranya mengikuti berbagai macam seminar/pelatihan tentang kurikulum baru, membuat berbagai macam administrasi yang semakin tahun semakin banyak, membuat berbagai macam metode pembelajaran yang menarik dan masih banyak lagi. Tantangan guru-guru Strada tentunya tidak hanya dalam membuat berbagai macam administrasi yang semakin banyak, tetapi juga tantangan dalam mengenal dan memahami karakter siswa yang berasal dari latar belakang budaya dan ekonomi yang berbeda-beda. Sebagian besar siswa pada umumnya berasal dari keluarga yang kurang mampu dan kurang harmonis, sehingga seringkali guru menjumpai siswa yang bermasalah secara akademik maupun non akademik.

           Para siswa jaman sekarang sangat bergantung pada gawai, sehinga tidak bisa fokus dalam menerima pembelajaran. Siswa akan jauh lebih tertarik dan antusias jika setiap pembelajaran menggunakan gawai setiap hari daripada hanya sekedar melihat powerpoint atau praktek di dalam kelas. Selain itu, siswa jaman sekarang lebih tertarik mengadopsi budaya luar negeri daripada melestarikan budaya bangsa sendiri. Tentunya hal ini menjadi keprihatinan bersama bagi para guru.

Modernisasi pembelajaran

           Modernisasi pembelajaran mengacu pada upaya memperbarui, meningkatkan dan menyesuaikan teknologi serta pendekatan pendidikan yang inovatif dalam proses pembelajaran agar sesuai dengan tuntutan dan perkembangan jaman. Hal ini tentunya berkaitan dengan penggunan tekhnologi infomasi dan komunikasi. Tujuan modernisasi pembelajaran adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran agar sesuai dengan perkembangan jaman. Perkumpulan Strada sering mengadakan seminar/pelatihan kepada para guru dalam upaya meningkatkan kualitas guru dalam menerapkan kurikulum yang berlaku. Setiap gurupun juga dituntut untuk bisa menggunakan berbagai macam metode pembelajaran yang menarik dan menggunakan perangkat teknologi demi menunjang keberhasilan pembelajaran.

Sekolah Berbudaya dan Berprestasi

         Sekolah berbudaya dan berprestasi merujuk pada lembaga pendidikan yang tidak hanya berupaya untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi namun juga berupaya untuk menciptakan budaya postif pada setiap warga sekolah. Sekolah yang berhasil menggabungkan budaya yang positif dan prestasi yang unggul pastinya tidak terlepas dari kerjasama dari semua pihak. Sekolah harus bisa kerjasama antara guru, karyawan, siswa, dan pastinya keterlibatan orang tua dalam pendampingan kepada anaknya agar sekolah yang berbudaya dan berprestsi bisa terwujud. Guru merupakan salah satu subyek yang sangat penting dalam upaya mewujudkan sekolah yang berbudaya dan berpreatsi agar sekolah tetap bisa bertahan dalam menghadapi tantangan yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Dengan melakukan modernisasi pembelajaran dalam rangka menuju sekolah yang berbudaya dan berprestasi merupakan langkah yang sangat esensial dalam menyesuaikan sistem pendidikan yang tentunya sesuai dengan tuntutan jaman saat ini. Hal ini tentunya menimbulkan gejolak bagi para guru untuk terus berproses mewujudkan sistem pendidikan yang sesuai dengan jaman sekarang. Gejolak yang dihadapi oleh guru saat ini adalah :

  1. Perubahan Kurikulum

       Setiap pergantian Menteri Pendidikan sudah dapat dipastikan nantinya akan ada perubahan kurikulum. Pemerintah terus berupaya untuk menciptakan kurikulum yang bisa diadopsi oleh semua sekolah di seluruh negeri. Gejolak utama yang dialami oleh guru Strada saat ini adalah adanya perasaan ketidakpastian dan kecemasan karena merasa kurang siap untuk mengadopsi perubahan kurikulum. Hal ini lebih banyak dialami oleh guru yang sudah lama mengajar dan merasa nyaman dengan kurikulum yang sudah dijalani selama ini. Dalam menghadapi gejolak ini tentunya sangat penting untuk diadakan berbagai seminar sosialisasi kurikulum baru yang dilakukan oleh pemerintah, yayasan, maupun sekolah.

  1. Metode pengajaran yang sesuai perkembangan jaman

     Gejolak ini pasti akan muncul setelah adanya perubahan kurikulum. Sebagian guru Strada tentu akan merasa cemas bahkan tidak percaya diri jika tetap menggunakan metode pengajaran yang tradisional. Dalam menghadapi gejolak ini tentu perlu dilakukan seminar atau pelathan tentang metode pengajaran yang tepat sesuai dengan perkembangan jaman sehingga setiap guru bisa mengembangkan ketrampilan baru dan bisa lebih kreatif dalam melakukan pembelajaran di kelas. Dengan adanya modernisasi pembelajaran, guru Strada diharapkan untuk bisa membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif yang menarik bagi siswa. Hal ini tentunya tidak mudah bagi guru Strada mengingat tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh guru tidak hanya sebatas pada proses mendidik dan megajar siswa namun ada berbagai macam kegiatan sekolah yang pastinya memerlukan peran serta guru.

  1. Integrasi tekhnologi dalam kelas

       Peningkatan penggunaan teknologi dalam setiap pembelajaran adalah salah satu aspek modernisasi yang sangat penting dan wajib dikuasi oleh para guru. Bagi sebagian guru Strada, terutama yang belum terbiasa dengan teknologi, proses ini tentunya akan menjadi pemicu kecemasan dan perasaan tidak percaya diri. Pelatihan yang efektif dan dukungan yang memadai bagi guru Strada perlu diberikan untuk membantu guru melewati hambatan ini.

  1. Tekanan prestasi akademik

       Perkumpulan Strada selalu memberikan tekanan tentang prestasi akademik pada setiap unit sekolah. Guru diharapkan mampu mengantar siswa untuk berprestasi tingkat Propinsi bahkan Nasional. Hal ini tentunya membuat guru bergejolak mengingat siswa yang dibimbingnya belum tentu mampu untuk bersaing ke tingkat Propinsi apalagi Nasional.

  1. Integrasi nilai budaya dalam pembelajaran

        Proses yang harus dialami untuk menuju sekolah berbudaya tentunya memerlukan integrasi nilai-nilai budaya yang beragam dalam kurikulum yang berlaku di sekolah. Langkah ini sangat penting dilakukan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mengandung nilai budaya agar siswa mampu melestarikan budaya yang ada di negeri ini. Namun, beberapa guru Strada mungkin merasa sulit untuk menyesuaikan materi pelajaran mereka dengan keragaman nilai dan budaya.

  1. Dukungan dan keterlibatan orang tua siswa

         Sekolah sangat mengharapkan dukungan dan keterlibatan dari semua pihak, khsusnya orang tua siswa agar sekolah berbudaya dan berprestasi bisa terwujud. Modernisasi pembelajaran lebih menekankan pada kolaborasi dan komunikasi dari berbagai pihak yang terkait di antaranya adalah orang tua siswa. Namun, guru Strada sering menjumpai kesulitan dalam mengajak kolaborasi dengan orang tua, diantaranya karena orang tua sibuk bekerja, orang tua yang berpisah dengan anaknya karena berbagai macam alasan, keadaan ekonomi orang tua, dan masih banyak lagi.

      Modernisasi pembelajaran dalam rangka menuju sekolah yang berbudaya dan berprestasi merupakan langkah yang esensial untuk menghadapi tuntutan jaman. Meskipun dalam mewujudkannya, guru Strada pastinya mengalami gejolak yang dapat diartikan sebagai tantangan, peluang, dan perubahan yang harus dihadapi bersama. Kolaborasi antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua sangat dibutuhkan karena menjadi kunci terwujudnya sekolah yang berbudaya dan berprestasi.

       Gejolak guru Strada dalam meodernisasi pembelajaran menuju sekolah berbudaya dan berprestasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tarnsfiormasi pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan jaman. Namun, guru Strada harus mengakui gejolak tersebut sebagai tantangan, peluang, dan perubahan yang harus dihadapi bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan Strada yang lebih baik.

Selamat ulang tahun Perkumpulan Strada ke-100, semoga semakin jaya dan bisa menjadi penuntun jalan bagi siswa menuju jalan kebenaran.

Salam AMDG.

Oleh: ERNY SULISTIYANINGSIH, NO.K 2006012

 

Sebarkan artikel ini